Dalam pembahasan fenomena suhu suatu benda, kita dapat memberi argumentasi mengapa indera perasa tangan kita tidak dapat menentukan panas-dinginnya suatu benda secara eksak. Dengan alat perasa, kita dapat membedakan benda yang panas, hangat atau dingin. Benda yang panas kita katakan suhunya lebih tinggi dari benda yang hangat atau benda yang dingin. Benda yang hangat suhunya lebih tinggi dari benda yang dingin. Dengan alat perasa indera kita hanya dapat membedakan suhu suatu benda secara kualitatif. Akan tetapi di dalam fisika kita akan menyatakan panas, hangat, dingin dan sebagainya secara eksak yaitu secara kuantitatif.
Suhu menyatakan ukuran panas atau dinginnya suatu benda. Kalor adalah bentuk energi yang mengalir dari benda yang bersuhu tinggi ke benda yang bersuhu rendah. Besaran suhu merupakan salah satu besaran pokok dalam fisika. Asal usul konsep suhu adalah perasaan kita. Kita dapat merasakan sesuatu itu panas, hangat, dingin, dan sebagainya. Dari sentuhan telapak tangan, Anda dapat menyusun urutan benda-benda berdasarkan derajat panasnya. Misal dari benda A, B dan, C, Anda memutuskan bahwa B lebih panas dari A, C lebih panas dari B. Anda menyatakan bahwa suhu yang paling tinggi adalah C, dan yang paling rendah adalah A. Dengan demikian, Anda dapat menyatakan suhu suatu benda berdasarkan perasaan Anda secara kualitatif saja. Namun, perasaan anda sangat terbatas, dengan demikian perasaan tak mampu menentukan panasnya suatu benda secara eksaks. Untuk menentukan atau mengukur derajat panas secara kuantitatif dipergunakan termometer. Ada beberapa jenis termometer dengan menggunakan konsep perubahan-perubahan sifat karena pemanasan. Pada termometer raksa dan termometer alkohol menggunakan sifat perubahan volum karena pemanasan. Ada beberapa termometer yang menggunakan sifat perubahan volum karena pemanasan, antara lain: Celcius, Reamur, Fahrenheit dan Kelvin.
Apabila suatu benda dipanaskan atau suhunya berubah, benda tersebut bisa mengalami berbagai perubahan. Beberapa sifat-sifat fisis yang berubah karena dipanaskan sebagai berikut. Sebatang besi lebih panjang ketika panas dibandingkan ketika dingin. Hambatan listrik kawat juga berubah terhadap suhu. Volume zat cair akan berubah terhadap kenaikan suhu (kecuali air pada rentangan suhu 00C sampai 40C). Demikian juga warna yang dipancarkan benda akan berubah bila suhunya berubah. Misalnya, pada proses listrik, elemen pemanas pada kompor listrik. Pada temperatur yang lebih tinggi, zat padat seperti besi bersinar jingga atau bahkan putih. Cahaya putih dari bola lampu pijar berasal dari kawat tungsten yang sangat panas. Suhu permukaan Matahari dan bintang-bintang lainnya dapat diukur terutama dari warna yang dipancarkan. Sifat-sifat zat yang berubah bila dipanaskan disebut sifat thermometric zat itu. Sifat thermometric zat ini dapat dipergunakan sebagai dasar pengukuran suhu. Alat-alat yang dirancang untuk mengukur suhu disebut termometer. Ada banyak jenis termometer, tetapi prinsip kerjanya selalu bergantung pada berbagai sifat materi yang berubah terhadap suhu.
Salah satu sifat thermometric zat yang dipergunakan untuk pengukuran suhu adalah perubahan volume zat cair. Misalnya, volume zat cair di dalam suatu wadah. Sifat ini dimanfaatkan pada termometer raksa dan termometer alkohol. Air raksa banyak dipergunakan dalam termometer karena air raksa memiliki banyak kelebihan, yaitu: (1) raksa merupakan zat cair penghantar kalor yang sangat baik sehingga cepat menyerap kalor dan cepat pula memuai, (2) pemuaiannya teratur, (3) raksa mengkilat sehingga mudah dibaca, (4) raksa tidak membasahi kaca ketika memuai dan menyusut, (5) jangkauan air raksa sangat lebar (-400C –3500).